RSS

Pembiaran “Hot Money” Bahayakan Moneter

19 Dec

Pembiaran “ Hot Money” Bahayakan moneter

Negara harus menambah modal bnak sentral jika defisit akibat dana-dana asing itu makin tinggi.

JAKARTA – Kebijakan Bank Indonesia (BI) membiarkan atau tidak melakukan pembatasan modal yang masuk (capital restriction) untuk mengontro dana asing spekulatif jangka pendek atau hot money dinilai membahayakan stabilitas moneter domestik saat terjadi pembalikan arah aliran modal.

Pengamat ekonomi Agustinus Prsetyantoko menegaskan hal itu di jakarta, jumat (17/12). Padahal, lanjut dia, sejumlah negara lain secara tegas malakukan capital control terhadap hot money.

Namun, sebaliknya, BI memilih untuk terbuka terhadap modal asing melalui instrumen Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang tenornya dilebarkan dan tidak boleh ditarik dalam jangka waktu tertentu.

“Stabilitas moneter bisa terganggu apabila terjadi capital outflow” kata prasetyantoko.

Dengan membiarkan arus modal asing masuk (capital inflow), bank sentral menanggung biaya bunga SBI 6,5 persen per tahun yang diperkirakan mencapai 30 triliun rupiah tahun ini, biaya ini menambah defisit neraca BI dan akhirnya menggerus modal BI.

Mayoritas bank sentral di negara emerging market atau negara yang memiliki risiko investasi harus menanggung dampak dari capital inflow dari institusi keuangan global atau hedge funds.

Akhirnya, bank sentral tersebut harus mengeluarkan biaya moneter dalam jumlah yang besar guna menstabilkan mata uang. Bank sentral yang mengalami defisit itu, antara lain bank sentral Bank of Chile (BCC), Bank of Thailand (BoT), dan BI.

Untuk mengantisipasi kecukupan modal BI minimal 2 triliun rupiah, Komisi XI DPR menyetujui defisit anggaran BI dalam anggaran Tahunan Bank Indonesia (ATBI) 2011 sebesar 45 triliun rupiah. Namun, komisi XI berpesan agar setiap 3 bulan sekali bank sentral melaporkan realisasi anggaran operasionall kepada komisi XI. Angka itu melonjak sekitar 4 triliun rupiah dari defisit anggaran BI 2010.

Dengan perkiraan defisit 30 triliun rupiah, maka modal BI sampai akhir tahun masih sekitar 39 triliun rupiah. UU BI menyebutkan jika modal BI turun menjadi 2 triliun rupiah, maka pemerintah wajib memberikan tambahan modal.

Arbitrase bunga

Pengamat perbankan Eko B supriyanto mengakui operasi moneter membutuhkan biaya yang cukup basar. Apalagi ada pasokan dalam bentuk inflow sehingga bank sentral harus mengintervensi dengan membeli valas yang masuk.

“ BI memang fokus menjaga keseimbanngan nilai tukar. Tapi yang patu diwaspadai adalah stimulus AS dengan dana 600 miliar dollar AS. Dana ini bisa menyapu tapi juga bisa diserap, kuncinya harus ada instrumen pasar uang beragam, “kata Eko.

Eko setuju jika bank sentral harus mencegah terjadinya arbitrasi bunga dari hot money akibat perbedaan bunga yang cukup lebar. Caranya, bisa dengan mekanisme pemberian sinyal seperti yang sering dilakukan Gubernur The Fed atau penettrasi ke perbankan.

Capital inflow tidak perlu dirisaukan sepanjang kita bisa menyediakan banyak instrumen pasar keuangan, dan akan lebih baik jikabisa masuk ke obligasi jangka panjang,” jelas Eko

Sementara itu, Kepala Humas BI Difi A Johansyah mengatakan memang terdapat karakterisik dimana arus modal asing yang masuk ke Indonesia memanfaatkan selisih suku bunga. Aji/din/WP

 

Sumber : KORAN JAKARTA, Sabtu, 18 Desember 2010

 
Leave a comment

Posted by on December 19, 2010 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: